Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Usaha Jasa Bermartabat Dalam UMKM

Gambar
Dalam ekosistem UMKM, usaha jasa sering kali berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Harga ditekan, negosiasi timpang, dan peran jasa dipandang sekadar “ pelaksana ”. Padahal, sejarah industri global membuktikan bahwa usaha jasa dapat menjadi tulang punggung bisnis besar, bahkan menjadi pengendali rantai nilai penentu jika dikelola dengan strategi yang tepat. Artikel ini membahas bagaimana usaha jasa bermartabat dapat dibangun oleh UMKM untuk menaikkan posisi tawar bukan sekedar mengejar cash flow usaha  semata. bukan dengan konfrontasi, melainkan dengan konsistensi, standar, dan kepercayaan. Memahami Makna “Bermartabat” dalam Usaha Jasa Bermartabat bukan berarti mahal atau eksklusif. Bermartabat berarti: Punya peran yang jelas Punya standar yang konsisten Tidak bergantung pada belas kasihan klien. Usaha jasa bermartabat menjual keandalan, bukan sekadar tenaga. Ia tahu apa yang dikerjakan, apa yang tidak, dan berani menetapkan batas profesional. Martabat usaha jasa lahir...

Tepo Seliro Modal Empati Sosial UMKM

Gambar
Tepa selira adalah salah satu falsafah Jawa yang berarti tenggang rasa, kemampuan untuk memahami perasaan dan keadaan orang lain. Nilai ini tidak hanya berlaku dalam kehidupan sosial, tetapi juga sangat relevan dalam dunia usaha, terutama bagi pelaku UMKM dan salahsatu langkah agar tetap rukun dalam usaha . Dengan tepa selira, seorang pengusaha tidak hanya fokus pada keuntungan materi, tetapi juga membangun hubungan yang lebih sehat dengan pelanggan, karyawan, hingga mitra bisnis. ‎Dalam konteks UMKM yang kerap bersinggungan langsung dengan masyarakat, empati menjadi modal sosial yang tak ternilai. Bukan hanya sekadar ramah atau murah senyum, tetapi benar-benar hadir untuk memahami dan memberi solusi ketika ada kebutuhan, keluhan, atau bahkan kritik. Ilustrasi kepedulian dan empati oleh pelaku umkm Tepa Selira di Era Digital Kehidupan usaha saat ini tidak bisa dilepaskan dari dunia digital. Review pelanggan, komentar pedas, bahkan kritik terbuka bisa datang kapan saja di media sosial ...

Rukun Sesama UMKM Agawe Sentosa

Gambar
Dalam falsafah Jawa, ada pepatah yang sering kita dengar:  “ Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.”  Artinya, kerukunan membawa kekuatan, sedangkan pertengkaran membawa kehancuran. Nilai ini tidak hanya berlaku di dalam rumah tangga atau masyarakat, tetapi juga sangat relevan dalam dunia usaha, khususnya di kalangan pelaku UMKM. ‎Mari kita bayangkan sejenak, apa jadinya jika sesama UMKM saling bersaing dengan cara yang tidak sehat? Bukannya maju bersama, yang ada justru saling menjatuhkan. Namun, jika kita memilih rukun, bersinergi, dan saling menopang, maka kekuatan itu akan berlipat ganda. Rukun Membuat UMKM Jadi Kuat Kerukunan di sebuah pasar ‎“ Rukun ” dalam tradisi Jawa bukan sekadar tidak bertengkar. Lebih dalam lagi, rukun berarti hidup selaras, saling menghormati, dan menjaga keseimbangan. Dalam keluarga, rukun adalah syarat kebahagiaan. Dalam bisnis, rukun menjadi kunci terciptanya produktivitas. ‎ ‎Bayangkan sebuah tim UMKM kecil, mungkin hanya beranggotaka...

Shokunin: Profesionalisme & Dedikasi UMKM

Gambar
Dalam budaya Jepang, ada satu kata memotivasi selain  Gambaru yang sarat makna dan layak dihidupkan dalam dunia usaha kecil: Shokunin . Kata ini bukan hanya berarti pengrajin atau profesional, melainkan mencerminkan sikap hidup yang berdedikasi, kebanggaan, dan ketekunan dalam bekerja, sekecil apa pun pekerjaan itu. Filosofi Shokunin mengajarkan kita bahwa ukuran kesuksesan bukan sekadar dari besar kecilnya modal atau bergengsi tidaknya usaha, melainkan dari sikap profesional dan rasa bangga terhadap apa yang kita lakukan.  Bagi para pelaku UMKM di Indonesia, terutama yang memulai usaha dari teras rumah atau pinggir jalan sederhana, menjadikan semangat yang bisa menguatkan langkah:  Bekerja dengan hati Berkomitmen penuh Bangga pada proses Bangga pada Pekerjaan Walaupun Kecil Banyak orang seringkali merasa rendah diri ketika memulai usaha di tempat sederhana. “Ah, masih jualan di trotoar,” atau “baru buka warung di rumah,” adalah kalimat yang sering terdengar. ...

Gambaru: Apapun Hambatannya Pantang Menyerah

Gambar
Dalam budaya Jepang, terdapat sebuah filosofi hidup yang sangat kuat: Gambaru . Kata ini sering diterjemahkan sebagai pantang menyerah, berusaha keras sampai tuntas, atau berjuang dengan sepenuh hati. Semangat ini tidak sekadar motivasi, melainkan fondasi sikap mental yang menekankan ketekunan, konsistensi, dan daya juang, terutama saat menghadapi kesulitan. Termasuk dengan melakukan inovasi setiap hari dengan  semangat Kaizen . Bagi dunia usaha kecil dan menengah (UMKM), nilai Gambaru terbukti sangat relevan. Pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada tahun 2020 menjadi ujian nyata. Saat aktivitas di ruang publik dibatasi, roda ekonomi tersendat, dan banyak usaha gulung tikar, sebagian UMKM memilih untuk menyerah. Namun, ada pula yang menyalakan semangat Gambaru selalu mencoba, bangkit, beradaptasi, dan terus mencari jalan hingga menemukan keberhasilan. Semangat pantang menyerah Filosofi Gambaru dalam Kehidupan Sehari-hari Gambaru tidak sekadar berarti “kerja keras”. Lebih dal...