Menerapkan Solomon Paradox dalam UMKM
Dalam dunia bisnis, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pengambilan keputusan yang tepat menjadi salah satu kunci utama untuk memastikan kelangsungan dan pertumbuhan usaha. Namun, tidak jarang pemilik UMKM menghadapi kesulitan dalam membuat keputusan yang objektif untuk bisnis mereka sendiri, meskipun mereka mampu memberikan saran yang bijaksana kepada orang lain. Fenomena ini dikenal sebagai Solomon Paradox, sebuah konsep yang menggambarkan kecenderungan manusia untuk lebih rasional dan bijaksana saat menasihati orang lain dibandingkan saat menghadapi masalah pribadi.
Artikel ini akan membahas bagaimana Solomon Paradox memengaruhi pengambilan keputusan dalam bisnis UMKM, tindakan-tindakan yang dapat diambil untuk mengatasinya, serta menyajikan contoh konkret berdasarkan data untuk mengilustrasikan penerapannya. Dengan memahami dan mengatasi paradoks ini, pemilik UMKM dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola bisnis secara lebih efektif dan profesional.
Apa Itu UMKM?
UMKM adalah kelompok usaha yang memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2008, UMKM diklasifikasikan berdasarkan kriteria tertentu, seperti jumlah aset dan omset tahunan:
Usaha Mikro: Aset maksimum Rp 50 juta, omset tahunan maksimum Rp300 juta.
Usaha Kecil: Aset antara Rp 50 juta hingga Rp500 juta, omset tahunan antara Rp300 juta hingga Rp2,5 miliar.
Usaha Menengah: Aset antara Rp500 juta hingga Rp 10 miliar, omset tahunan antara Rp2,5 miliar hingga Rp 50 miliar.
UMKM biasanya dikelola oleh individu atau keluarga, sehingga keputusan bisnis sering kali dipengaruhi oleh faktor: emosional, pengalaman pribadi, dan keterbatasan sumber daya. Hal ini membuat mereka rentan terhadap bias dalam pengambilan keputusan, yang menjadi salah satu cerminan dari Solomon Paradox.
Apa Itu Solomon Paradox?
Solomon Paradox merujuk pada kecenderungan seseorang untuk lebih objektif dan bijaksana saat memberikan nasihat kepada orang lain, tetapi cenderung subjektif dan emosional saat menghadapi masalah sendiri. Istilah ini terinspirasi dari Raja Solomon dalam tradisi Yahudi-Kristen, yang dikenal sebagai sosok bijaksana dalam menyelesaikan konflik orang lain, namun menghadapi tantangan dalam kehidupan pribadinya.
Dalam konteks bisnis UMKM, Solomon Paradox terlihat ketika pemilik UMKM mampu memberikan saran bisnis yang logis dan strategis kepada rekan pengusaha, tetapi kesulitan menerapkan saran serupa pada usaha mereka sendiri. Penyebabnya bisa beragam, seperti:
Keterikatan Emosional: Bisnis sering dianggap sebagai “anak” atau bagian dari identitas pribadi, sehingga sulit untuk mengambil keputusan yang rasional. Ketika seorang wirausahawan menganggap bisnis sebagai "anak" atau identitas diri, objektivitas mereka terdistorsi. Jarak psikologis yang menyempit membuat ego mendominasi logika, sehingga keputusan rasional terhambat oleh ketakutan akan kegagalan atau keinginan mempertahankan visi yang tidak lagi relevan. Untuk mengatasinya, pelaku bisnis perlu menerapkan strategi self-distancing melihat masalah mereka dari sudut pandang pihak ketiga. Dengan menjauhkan emosi pribadi, keputusan yang diambil akan lebih pragmatis dan strategis, layaknya memberikan saran kepada sahabat.
Bias Pribadi: Pemilik cenderung membenarkan keputusan mereka sendiri meskipun data menunjukkan sebaliknya. Pola pikir ini menciptakan titik buta yang menghambat adaptasi. Dalam konteks Solomon, solusi utamanya adalah Mengubah perspektif eksternal,dengan membayangkan bahwa keputusan tersebut dibuat oleh orang lain, pemilik dapat menilai data secara lebih dingin dan objektif. Menghilangkan keterlibatan personal memungkinkan logika mengungguli bias, sehingga perubahan arah bisnis dilakukan berdasarkan fakta, bukan sekadar validasi ego.
Kurangnya Perspektif Luar: Terlalu fokus pada operasional sehari-hari membuat mereka sulit melihat gambaran besar. Secara psikologis, kedekatan yang ekstrem terhadap masalah internal menghilangkan jarak yang diperlukan untuk berpikir bijak. Tanpa adanya sudut pandang pihak ketiga, tantangan sistemik sering kali hanya dianggap sebagai gangguan rutin. Untuk memutus siklus ini, penting bagi pemimpin untuk melangkah mundur secara berkala, guna mendapatkan kembali objektivitas yang sering kali terabaikan akibat kelelahan operasional dan kedekatan situasional.
Dampak Solomon Paradox pada Bisnis UMKM
Solomon Paradox dapat menjadi hambatan signifikan bagi UMKM. Misalnya, seorang pemilik UMKM mungkin menyarankan temannya untuk memanfaatkan teknologi digital guna meningkatkan penjualan, tetapi ragu untuk mengadopsi teknologi yang sama karena takut akan biaya atau ketidakpastian hasil. Akibatnya, bisnis mereka tertinggal dari kompetitor yang lebih adaptif.
Contoh lain adalah dalam manajemen keuangan. Pemilik UMKM mungkin menyarankan orang lain untuk memisahkan keuangan pribadi dan bisnis guna menjaga likuiditas, tetapi dalam praktiknya, mereka sendiri sering mencampur keduanya, yang dapat menyebabkan masalah arus kas. Paradoks ini menunjukkan bahwa pemilik UMKM sering kali “tahu apa yang harus dilakukan” tetapi gagal melakukannya untuk diri mereka sendiri.
Tindakan untuk Mengatasi Solomon Paradox dalam Bisnis UMKM
Untuk mengatasi Solomon Paradox dan membantu pemilik UMKM mengambil keputusan yang lebih bijaksana, berikut adalah beberapa tindakan yang dapat diterapkan:
| Strategi Utama | Ulasan | |
|---|---|---|
| 1 | Mentor atau Konsultan | Gunakan perspektif ahli eksternal untuk mendapatkan saran objektif tanpa gangguan keterikatan emosional pribadi. |
| 2 | Komunitas Bisnis | Dapatkan wawasan baru melalui diskusi dengan rekan sejawat guna melihat peluang dari sudut pandang berbeda. |
| 3 | Evaluasi Diri Berkala | Lakukan audit performa berbasis data nyata untuk meminimalkan bias subjektif dan ego dalam kepemimpinan. |
| 4 | Sistem dan Prosedur | Terapkan standar operasional yang jelas agar setiap keputusan bisnis tetap rasional, stabil, dan konsisten. |
| 5 | Belajar dari Kesalahan | Evaluasi kegagalan secara logis seperti memberikan saran kepada orang lain untuk perbaikan strategi masa depan. |
1. Mencari Mentor atau Konsultan Bisnis
Mentor atau konsultan yang berpengalaman dapat memberikan pandangan objektif yang tidak dipengaruhi oleh emosi pribadi pemilik UMKM. Mereka dapat membantu menganalisis masalah dan menawarkan solusi berdasarkan data serta pengalaman.
2. Bergabung dengan Komunitas Bisnis
Komunitas UMKM atau kelompok pengusaha menyediakan wadah untuk bertukar pikiran, belajar dari pengalaman orang lain, dan mendapatkan umpan balik. Interaksi ini dapat membantu pemilik UMKM melihat bisnis mereka dari sudut pandang yang lebih luas.
3. Melakukan Evaluasi Diri Secara Berkala
Pemilik UMKM perlu secara rutin mengevaluasi kinerja bisnis mereka, misalnya dengan menganalisis laporan keuangan, tren penjualan, atau umpan balik pelanggan. Evaluasi berbasis data ini dapat mengurangi keputusan yang dipengaruhi oleh emosi.
4. Menerapkan Sistem dan Prosedur yang Jelas
Dengan memiliki sistem operasional atau keuangan yang terstruktur, pemilik UMKM dapat mengurangi ketergantungan pada intuisi atau perasaan. Misalnya, penggunaan aplikasi akuntansi dapat membantu melacak keuangan secara akurat.
5. Belajar dari Kesalahan
Menganalisis kegagalan, baik dari pengalaman sendiri maupun orang lain—adalah cara efektif untuk meningkatkan pengambilan keputusan. Pemilik UMKM dapat mengikuti pelatihan, seminar, atau mempelajari studi kasus untuk memperluas wawasan.
Contoh Konkret Berdasarkan Data
Untuk mengilustrasikan penerapan Solomon Paradox dan solusinya, mari kita lihat contoh dari sebuah UMKM fiktif bernama Toko Kue Bunda, yang bergerak di bidang kuliner. Berikut adalah data yang digunakan untuk analisis:
- Omset Bulanan: Menurun dari Rp 20 juta menjadi Rp 15 juta dalam 6 bulan terakhir (penurunan 25%).
- Biaya Operasional: Tetap Rp 12 juta per bulan.
- Jumlah Pesanan Harian: Turun dari 50 pesanan menjadi 40 pesanan.
- Kompetitor: Toko kue tetangga meluncurkan promo online dan meningkatkan penjualan mereka sebesar 15%.
Pemilik Toko Kue Bunda, Ibu Sari, sering menyarankan teman sesama pengusaha untuk melakukan promosi di media sosial atau menawarkan diskon agar menarik pelanggan.
Namun, ketika tokohnya sendiri mengalami penurunan omset, Ibu Sari ragu untuk menerapkan saran tersebut karena khawatir biaya promosi tidak sebanding dengan hasilnya.
Analisis Berdasarkan Data:
- Penurunan Omset 25%: Dari 20 juta menjadi 15 juta menunjukkan adanya masalah dalam strategi pemasaran atau daya tarik produk.
- Margin Keuntungan Menipis: Dengan biaya operasional 12 juta, keuntungan kini hanya 3 juta per bulan (dari sebelumnya 8 juta), yang mengancam keberlanjutan bisnis. Omset besar belum tentu kaya telah disadari dan perlu evaluasi mendalam.
- Penurunan Pesanan: Berkurangnya pesanan harian bisa disebabkan oleh kurangnya visibilitas toko atau persaingan yang semakin ketat.
Penerapan Solomon Paradox
Ibu Sari menunjukkan gejala Solomon Paradox:
Tahu apa yang harus dilakukan (berdasarkan saran yang ia berikan kepada orang lain), tetapi tidak menerapkannya pada bisnisnya sendiri karena takut mengambil risiko. Untuk mengatasi ini, berikut adalah tindakan yang dapat diambil berdasarkan lima solusi di atas:
Mencari Mentor atau Konsultan
Ibu Sari bisa berkonsultasi dengan konsultan pemasaran kuliner untuk merancang strategi promosi yang hemat biaya, seperti iklan berbayar di media sosial dengan anggaran terukur. Strategi iklan berbayar dengan anggaran terukur menjadi solusi teknis yang menghilangkan elemen spekulasi. Konsultan membantu merancang parameter kesuksesan yang dingin dan berbasis data, seperti rasio konversi dan biaya per akuisisi pelanggan yang sering kali sulit dirumuskan sendiri karena bias optimisme atau ketakutan berlebih. Dengan mengikuti arahan pakar, Ibu Sari menerapkan disiplin profesional yang biasanya ia kagumi pada bisnis besar, mengubah keterbatasan perspektif menjadi keunggulan kompetitif yang hemat biaya namun berdampak masif.
Bergabung dengan Komunitas Bisnis
Dengan bergabung ke komunitas pengusaha kuliner lokal, Ibu Sari bisa belajar dari toko kue lain yang sukses meningkatkan penjualan melalui promosi online. Di dalam komunitas, Ibu Sari dapat mengamati pola kesuksesan promosi online orang lain tanpa beban emosional yang biasanya mengaburkan logika saat mengelola bisnis pribadi. Perspektif luar ini membantu ia melihat celah strategis yang selama ini tertutup oleh rutinitas operasional. Belajar dari pengalaman rekan sejawat memungkinkan Ibu Sari mengambil keputusan yang lebih rasional dan terukur, mengubah wawasan kolektif menjadi langkah konkret untuk meningkatkan skala penjualan bisnisnya secara efektif.
Evaluasi Diri Secara Berkala
Ibu Sari dapat menganalisis data penjualan untuk melihat pola pembelian pelanggan dan menentukan produk yang paling laku, lalu memfokuskan promosi pada produk tersebut. Pendekatan ini memutus bias konfirmasi yang sering kali membuat pemilik usaha mempertahankan produk favorit secara personal, meski kurang diminati pasar. Dengan memfokuskan promosi pada produk yang paling laku berdasarkan statistik, Ibu Sari menerapkan kebijaksanaan pragmatis. Transformasi dari subjektivitas ke objektivitas data ini memastikan bahwa alokasi sumber daya dilakukan secara rasional demi pertumbuhan bisnis yang lebih terukur dan strategis.
Menerapkan Sistem dan Prosedur
Ibu Sari bisa menggunakan platform pemesanan online (misalnya, G*Food atau Gra*Food) untuk mempermudah pelanggan memesan kue, sekaligus meningkatkan visibilitas toko. Peningkatan visibilitas ini memberikan umpan balik instan berupa data rating dan ulasan pelanggan, yang berfungsi sebagai "suara eksternal" untuk mengoreksi bias pribadi. Alih-alih hanya mengandalkan intuisi, Ibu Sari kini memiliki parameter yang jelas untuk mengevaluasi performa toko kue miliknya. Akses terhadap teknologi ini tidak hanya mempermudah pelanggan, tetapi juga melatih Ibu Sari untuk mengambil keputusan berdasarkan tren pasar nyata, bukan sekadar keterikatan emosional terhadap cara kerja lama.
Belajar dari Kesalahan
Dengan mengamati kompetitor yang sukses dengan promo online, Ibu Sari bisa mengadaptasi strategi serupa, seperti menawarkan diskon 10% untuk pembelian pertama melalui aplikasi. Mengadaptasi promo diskon 10% untuk pengguna baru adalah bentuk kebijaksanaan praktis yang didorong oleh bukti eksternal. Dengan meniru pola yang sudah teruji, Ibu Sari beralih dari sekadar spekulasi pribadi menuju pengambilan keputusan berbasis data kompetisi. Langkah ini memungkinkannya untuk bertindak lebih rasional, memperlakukan bisnisnya dengan ketajaman analitis yang sama saat ia memberikan saran kepada orang lain, sehingga transformasi digital toko kuenya menjadi lebih terukur dan minim risiko.
Hasil yang Diharapkan
Jika Ibu Sari menerapkan langkah-langkah ini, misalnya dengan mengalokasikan Rp 1 juta untuk promosi online dan bergabung dengan platform pemesanan, ia berpotensi meningkatkan pesanan harian kembali ke 50 atau lebih, sehingga omset bisa kembali ke Rp 20 juta atau bahkan lebih tinggi.
Investasi strategis sebesar Rp 1 juta untuk promosi digital merupakan titik balik bagi Ibu Sari dalam menundukkan Solomon’s Paradox. Dengan berani mengeksekusi anggaran ini dan bergabung ke platform pemesanan, ia tidak lagi sekadar menjadi pengamat yang bijak bagi orang lain, melainkan menjadi arsitek bagi kesuksesannya sendiri. Langkah konkret ini mencerminkan transisi dari keraguan emosional menuju keberanian profesional yang terukur.
Potensi kembalinya angka 50 pesanan harian dengan omset melampaui Rp 20 juta adalah bukti nyata bahwa objektivitas membawa hasil finansial. Ketika Ibu Sari menerapkan saran yang biasanya ia berikan kepada rekan sejawat ke dalam bisnisnya sendiri, ia berhasil meruntuhkan dinding pembatas antara pengetahuan dan tindakan. Keberhasilan ini menegaskan bahwa kebijaksanaan tertinggi muncul saat kita mampu memperlakukan tantangan pribadi dengan ketegasan logis yang sama seperti saat membantu orang lain meraih impian mereka.
Ini menunjukkan bahwa dengan mengatasi Solomon Paradox, ia dapat menerapkan saran yang biasanya ia berikan kepada orang lain untuk keuntungan bisnisnya sendiri.
Kesimpulan
Solomon Paradox adalah fenomena yang sering terjadi di kalangan pemilik UMKM, di mana mereka lebih bijaksana dalam memberikan saran kepada orang lain daripada mengambil keputusan untuk bisnis mereka sendiri. Dalam konteks UMKM, paradoks ini dapat menghambat pertumbuhan usaha karena keputusan yang didasarkan pada emosi atau ketakutan, bukan data dan logika.
Namun, hambatan ini dapat diatasi dengan tindakan konkret seperti mencari mentor, bergabung dengan komunitas bisnis, melakukan evaluasi rutin, menerapkan sistem yang jelas, dan belajar dari kesalahan.
Contoh: Toko Kue Bunda menunjukkan bagaimana pemilik UMKM dapat mengubah pola pikir mereka dan menerapkan solusi yang rasional untuk mengatasi penurunan omset, dengan memanfaatkan saran yang biasanya mereka berikan kepada orang lain.Dengan mengatasi Solomon Paradox, pemilik UMKM tidak hanya menjadi lebih objektif dan profesional dalam mengelola bisnis, tetapi juga mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Pada akhirnya, kesuksesan UMKM tidak hanya bergantung pada kerja keras, tetapi juga pada kemampuan untuk mengambil keputusan yang bijaksana dan baik untuk orang lain maupun untuk diri sendiri.
Catatan: Data dalam contoh di atas bersifat fiktif untuk keperluan ilustrasi. Dalam situasi nyata, analisis dapat diperkuat dengan data aktual dari bisnis yang bersangkutan.
❓ FAQ Solomon Paradox
Apa itu Solomon Paradox?
Solomon Paradox adalah kecenderungan seseorang untuk lebih bijaksana dalam menyelesaikan masalah orang lain dibandingkan masalah sendiri. Istilah ini diambil dari kisah Raja Solomon yang dikenal sangat bijaksana saat mengadili perkara orang lain, namun tidak mampu mengelola masalah pribadinya dengan baik.
Mengapa kita lebih baik menyelesaikan masalah orang lain?
Karena saat menghadapi masalah orang lain, kita cenderung memiliki jarak emosional. Jarak ini memungkinkan kita berpikir lebih jernih, rasional, dan objektif. Sebaliknya, ketika menghadapi masalah pribadi, kita sering terjebak emosi yang mengaburkan penilaian.
Bagaimana Solomon Paradox memengaruhi pengambilan keputusan?
Paradoks ini dapat menyebabkan keputusan buruk dalam aspek-aspek penting kehidupan seperti hubungan, keuangan, dan karier. Kita gagal menerapkan prinsip kebijaksanaan yang biasanya kita berikan pada orang lain saat menghadapi dilema kita sendiri.
Bagaimana cara mengatasi Solomon Paradox untuk pengambilan keputusan yang lebih baik?
Salah satu teknik efektif adalah self-distancing atau mengambil jarak mental. Contohnya, bayangkan masalah kita adalah masalah sahabat, lalu tanyakan: “Apa nasihat terbaik yang bisa saya berikan pada sahabat dalam situasi ini?” Cara ini membantu kita melihat masalah secara lebih objektif.
Apakah ada penelitian ilmiah yang mendukung Solomon Paradox?
Ya. Penelitian oleh Igor Grossman dan Ethan Kross (2014) membuktikan bahwa orang cenderung lebih bijaksana saat menyelesaikan masalah orang lain dibandingkan diri sendiri. Studi ini juga menunjukkan bahwa teknik self-distancing mampu meningkatkan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan pribadi.
Menarik sekali. Kita memang cenderung lebih bijak tatkala memberi masukan atau nasihat untuk orang lain. Tapi, begitu kacau tatkala menghadapi maslaah sendiri. Dan, kedekatan emosional memang menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan perbedaan/paradoks itu.
BalasHapusMemang sih pada praktiknya, memberikan saran dan kritik kepada orang lain maupun perusahaan akan berbeda dengan penerapan pada diri sendiri. Objektivitas sangat diperlukan dan harus, berbeda dengan jika penuh emosi (subjektif). Oleh karena itu, membuat keputusan harus disertai prinsip kebijaksanaan dengan self-distancing yang baik agar berhasil.
BalasHapusKonsep Solomon Paradox ini menarik kalau diterapkan dalam UMKM. Kadang kita lebih mudah memberi saran ke orang lain dibanding mengambil keputusan untuk diri sendiri. Pembahasan seperti ini membuka cara berpikir yang lebih objektif dalam menjalankan usaha
BalasHapusAsli, ini pembahasannya menarik banget sih! Saya langsung kepikiran betapa seringnya kita sebagai pelaku usaha itu pusing sendiri pas menghadapi masalah internal, padahal kalau kasih saran ke bisnis orang lain rasanya lancar banget ya. Saya paham banget maksud kamu soal Solomon Paradox ini, memang kita butuh ambil jarak sedikit supaya bisa melihat masalah bisnis sendiri dari kacamata orang ketiga yang lebih objektif. Strategi yang kamu sebutkan soal membayangkan masalah itu milik teman benar-benar masuk akal buat ngurangin ego dan emosi yang sering bikin keputusan jadi bias. Makasih ya sudah diingatkan lewat tulisan ini, jadi refleksi diri banget buat saya supaya lebih bijak pas lagi buntu ngurusin operasional sehari-hari!
BalasHapusMenarik banget sih ini. Konsep Solomon Paradox-nya relate banget sama kondisi UMKM, sering kali kita jago kasih insight atau strategi ke orang lain, tapi pas di bisnis sendiri malah overthinking. Padahal kalau bisa ‘ambil jarak’ dikit dari masalah sendiri, mungkin keputusan jadi lebih objektif. Insight-nya dapet banget, apalagi buat pelaku UMKM yang tiap hari harus ambil keputusan cepat
BalasHapusNah iya, giliran kasih saran ke orang bisa bijak, ke diri sendiri, enggak...Seperti halnya mengatasi Solomon Paradox bagi UMKM yang berarti mengubah pengetahuan menjadi tindakan dengan cara mengurangi ego dan emosi dalam mengambil keputusan bisnis.
BalasHapusFenomena Solomon Paradox ini memang "penyakit" umum bagi kita para pelaku UMKM. Sering kali kita sangat tajam saat memberi masukan ke teman, tapi mendadak blank atau terlalu emosional saat mengurus bisnis sendiri karena merasa bisnis itu sudah seperti anak sendiri.
BalasHapusPoin tentang self-distancing benar-benar kunci. Membayangkan diri sebagai pihak ketiga membantu logika tetap jalan di atas ego.
Wah, tulisannya menarik karena bahas Solomon Paradox dengan sudut pandang yang dekat sama dunia UMKM. Jadi pembaca bisa lebih gampang nyambung antara teori dan praktik sehari-hari, apalagi kalau dibawakan dengan bahasa yang ringan seperti ini.
BalasHapusKadang kalau ngasih saran ke teman yang bisnisnya lagi mampet, kita bisa lancar banget kasih solusi A sampai Z. Tapi pas kena ke diri sendiri, rasanya kok mendadak buntu ya, hehe. Strategi buat mengatasi paradoks ini di UMKM beneran jadi ilmu baru yang fungsional banget.
BalasHapusIni ilmu banget buat saya. Jadinya kalau mau diriin UMKM ada gambaran tentang Solomon Paradox ini. Kebayang memang kalau buat UMKM di mana keluarga ikut di dalamnya, pasti akan susah menghindari kondisi Solomon Paradox ini. Better memang punya mentor atau konsultan dari luar keluarga yang akan menguatkan setiap keputusan kita
BalasHapusasli baru tau istilah ini, solomon paradox, saya pelaku umkm juga tapi baruni tau, anyway ini relate dan relevan dengan para umkm lainnya seolah2 bagi saran dan lainnya tapi belum bisa di implementasi untuk usahanya sendiri. enathlah saya pun bingung, semoga tercerahkan dengan insight tulisan ini.
BalasHapusUlasannya menarik karena mengaitkan Solomon Paradox dengan pengelolaan UMKM. Kadang pelaku usaha lebih mudah memberi saran pada bisnis orang lain daripada mengevaluasi usahanya sendiri. Dengan mengambil sudut pandang lebih objektif, keputusan bisnis bisa menjadi lebih matang dan tidak terlalu dipengaruhi emosi.
BalasHapusSolomon Paradox ini kayaknya gak cuma berlaku untuk dunia bisnis, ya. Hehe ... ibarat orang, ora iso ndelok githoke dewe. Enggak bisa berkomentar detil dan obyektif kalau untuk bisnisnya sendiri
BalasHapusSolomon Paradox ini memang banyak terjadi sih ya, ketika seseorang bisa dengan mudah memberikan saran untuk orang lain namun jika untuk dirinya sendiri malah jadi begitu banyak pertimbangan bahkan terkesan ada denial juga sih ya, makanya harus bisa dan mau untuk melibatkan orang lain (mentor atau konsultan bisnis dan juga gabung ke komunitas ya) agar bisa bertukar pikiran dan mendapatkan pencerahan untuk bisnis yang lebih sehat dan baik
BalasHapusAduh aduh ternyata begitu makna Solomon paradox, kyknya kurang cocok kalau orang yang punya karakter gini jadi pebisnis UMKM, cocoknya jadi orang yang berkecimpung di lembaga filantropi hehe.
BalasHapusEmang sepertinya butuh komunitas juga mentor supaya bisa lebih memahami strategi apa saja yang seharusnya dimiliki sebagai pengusaha yaa, agar bisa menghindari kesalahan dari Solomon paradox ini.
Ternyata UMKM pun mudah terkena Solomon Paradox ya. Beneran sih, lebih mudah menasehati oranglain secara objektif ketimbang membenahi diri secara menyeluruh banyak faktor internal yang rasanya bias.
BalasHapusNah, butuh mentor yang tepat. Jadi punya guide yang lebih profesional dan objektif.